Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan
klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di SYEKHERMANIA LASKAR PURWOREJO
Anwar Musaddad, Kiai yang Dosen
Seorang ulama-intelektual yang berdedikasi untuk pengembangan lembaga ilmiah, namun tetap berdiri di atas tradisi pesantren. Keahliannya dalam Ilmu Perbandingan Agama tergolong langka di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) pada masanya.
Lahir di Garut pada 3 April 1909, menempuh pendidikan di HIS (Hollandsche Indische School, setingkat SD pada zaman Belanda), MULO (setingkat SMP) Kristelijk di Garut, dan AMS (setingkat SMA) Kristelijk di Sukabumi. Setelah menamatkan pendidikan menengah di sekolah Katolik tersebut, ia belajar di Pesantren Darussalam Wanaraja, Garut selama dua tahun, kemudian pada 1930 melanjutkan studi ke Mekah dan belajar di Madrasah al-Falah selama sebelas tahun.
Ia kembali ke tanah air menjelang berakhirnya kekuasaan Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, Anwar Musaddad diangkat menjadi kepala Kantor Urusan Agama (Shumubu) dan ketua Masyumi untuk daerah Priangan. Pada masa revolusi, ia bergabung dalam Hizbullah dan memimpin pasukan bersama pengasuh pesantren Cipari, KH Yusuf Tauziri.

Anwar Musaddad diangkat menjadi Guru Besar dalam Ilmu Ushuluddin dan menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin (1962-1967). Dalam Dies Natalis IAIN Al-Jami’ah ke-5 ia menyampaikan pidato berjudul “Peranan Agama dalam Menyelesaikan Revolusi”.
Pada 1967, Anwar Musaddad ditugaskan merintis pendirian IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan menjadi Rektor pertama IAIN Sunan Gunungjati hingga 1974. Keahliannya adalah Ilmu Perbandingan Agama, khususnya dalam bidang Kristologi. Salah satu karya dalam bidang ini adalah “Kedudukan Injil Barnabas menurut Pandangan Islam”, dipublikasikan pada 1981 oleh Penerbit Albaramain.
Kiprahnya di NU dimulai sejak 1954 pada kepengurusan Partai NU 1954-1956 sebagai A’wan Syuriyah bersama KH Ruchiyat (Tasikmalaya), KH Djamhari (Banten), KH Machrus Ali (Kediri), dan Syaikh Musthafa Chusain Mandailing (Sumata Utara).
Saat itu, Rais Akbar PBNU adalah KH A. Wahab Hasbullah. Periode berikutnya (1956-1959) ia masih di A’wan Syuriah, tetapi sekaligus sebagai Ketua Ma’arif. Selanjutnya, pada periode 1959-1962 menjabat Ketua III Tanfidziyah, Wakil Rais II Syuriyah (1962-1967), Rais I Syuriyah (1967-1971), Rais Syuriah III PBNU (1974-1079), wakil Rais ‘Am PBNU (1979-1984).
Pada saat jabatan Rais ‘Aam PBNU mengalami kekosongan setelah KH Bisri Syansuri wafat pada 1981, maka untuk mengisi kekosongan itu ada dua pendapat, yakni Wakil Rais ‘Aam (KH Anwar Musaddad) secara otomatis menjabat Rais ‘Aam, tetapi ada pendapat lain bahwa jabatan Rais ‘Am ditetapkan melalui Musyawarah Alim Ulama NU.
Tampaknya pendapat kedua yang kemudian diberlakukan. Pada Munas Alim Ulama NU di Yogyakarta 1981, KH Ali Maksum ditetapkan sebagai Rais ‘Aam, dan KH Anwar Musaddad tetap pada posisinya sebagai Wakil Rais ‘Aam.
Pada kepengurusan PBNU periode 1984-1989 hasil Muktamar Situbondo, Kiai Anwar Musaddad menjabat Mustasyar, dilanjutkan pada periode 1989-1994. Sejak tahun 1976, Anwar Musaddad kembali ke tanah kelahirannya Garut, mendirikan Pesantren Al-Musaddadiyah yang juga mengelola lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Saat ini, lembaga pendidikan Al-Musaddadiyah diasuh oleh putra-putranya, khususnya KH Tontowi Jauhari.
Prof. Kiai Haji Anwar Musaddad wafat pada 19 Rabiutsani 1422/2000 dalam usia 91 tahun dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Musaddadiyah, Garut Jawa Barat.
Semoga Amal ibadah beliau diterima disisih Allah SWT Dan Diampuni segala dosa_dosanya,dan di tempatkan ditempat yang paling nyaman yaitu surga. Aamiin Ya Allah Ya Robbal'alamiin..........
Ditulis Oleh : Den Bagoez Sigit Pamuji Ragile Kanjengdoso

Related Articles :
AL~KISAH
- Mukjizat-Mukjizat ALLAH SWT di Palestina
- KALAM ULAMA' |Syekh Yusri Rusydi
- Pelajarilah syamail (hal-hal yang terkandung pada diri)
- Keutamaan - Keutamaan Di Bulan Suci Ramadhan
- PESAN RASULLULAH SAW DI BULAN RAMADHAN
- Menyikapi Perbedaan Dalam Penentuan Awal Puasa Dan atau Hari Raya Idul Fitri
- Pemerintah Resmi Tetapkan 1 Ramadhan1435 H (29 Juni 2014) Ahad
- SIDANG ISBAT PENENTUAN AWAL ROMADHON 1435 H
- SOSOKNYA HAMPIR SAMA DENGAN SOSOK RASULULLAH SAW
- MENGUAK RAHASIA MUHAMMADIYAH
- PELAJARAN DARI KIAI MAHRUS, KIAI ALI MA’SHUM & SYAIKH HARIS AL MUHASIBI
- SEJARAH MASJID LIRBOYO
- SANTRI PERTAMA DAN PONDOK LAMA
- KISAH NABI ADAM AS
- KISAH NABI ISMAIL AS
- The Great Noah Ark (Perahu/Bahtera Nabi Nuh)
- Mukjizat Nabi Musa A.S
- Mukjizat Nabi Ibrahim A.S Dan Sejarah Nabi Ibrahim a.s.
- PERINGATAN HAUL AGUNG SUNAN AMPEL RADEN SAYYID AKHMAD RAHMATULLAH BIN IBRAHIM ASMOROQANDI KE-565
- SALAH SATU TANDA AKHIR ZAMAN
- WAFATNYA PARA ULAMA ADALAH MUSIBAH BAGI KAUM MUSLIMIN
- PEMBAHASAN SEKITAR MALAM NISFU SYABAN
- Kisah Hasan al-Bashri Melihat Orang Pacaran
- FAKTA MENGENAI SHOLAWAT
- Keutamaan Bulan Sya'ban
Tokoh Ulama
- Telah Berpulang ke Hadratillah Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani
- KH. Ahmad Warson Munawwir Penyusun Kamus Arab-Indonesia Al Munawwir
- Biografi K.H Yusuf Khudlori (Gus Yus) Pengasuh P.P Tegalrejo Magelang
- SYAIKH HISYAM AL~KABBANI AR~RABBANI
- SUNAN GUNUNG JATI (SYARIF HIDAYATULLAH)
- SUNAN MURIA (RADEN UMAR SAID)
- SUNAN KALIJAGA
- SUNAN GIRI
- SUNAN KUDUS
- SUNAN DRAJAT ( RADEN QOSIM )
- SUNAN BONANG ( SYEKH MAULANA MAKDUM IBRAHIM )
- SUNAN AMPEL ( RADEN RAHMAT )
- SUNAN GRESIK (SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM)
- AL~KISAH TENTANG WALISONGO
- Biografi KH Muhammad Kholil Bangkalan Madura
- Kyai Haji Hasyim Asyari
- KYAI HAJI WAHAB HASBULLAH
- KH Zaini Mun'im, Seorang Santri Mbah Hasyim
- Kyai Ali Maksum dan Dinamisasi Teks-teks Klasik
- KH Muslih Abdurrahman Mranggen
- KH Muntaha Al-Hafizh (Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat)
- Sayyid Ibrohim Bin Ali Ba’abud ( Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama )
- MBAH KYAI NAHROWI DALHAR WATUCONGOL
- K.H.ABDULLAH SALAM